daun berguguran

Rabu, 05 September 2012

BAHAN PAKAN NON-KONVENSIONAL


BAHAN PAKAN NON-KONVENSIONAL
Bahan pakan ini adalah bahan pakan yang tidak atau belum lazim dipakai untuk menyusun ransum. Bahan pakan ini berpotensi digunakan sebagai campuran pakan unggas karena tingkat ketersediaannya banyak diberbagai daerah. Bahan ini mengandung nutrisi yang diperlukan unggas dan kurang bersaing dengan manusia, tapi belum banyak dimanfaatkan karena hanya daerah-daerah tertentu yang tersedia. Kandungan anti nutrisi yang dimiliki harus diolah terlebih dahulu sebelum digunakan pada unggas. Bahan ini bisa berasal dari industri kimia, pertanian maupun hasil fermentasi.
Berikut beberapa bahan pakan yang termasuk bahan pakan non-konvensional :
A.    Onggok
Onggok merupakan produk samping pengolahan ubi kayu menjadi tapioka. Dari setiap ton ubi kayu dapat dihasilkan 114 kg onggok. Onggok mengandung air cukup tinggi (81-85%), dan dapat menjadi sumber pencemaran atau polusi udara/ lingkungan, terutama di wilayah produksi apabila tidak ditangani dengan baik. Onggok sebenarnya berpotensi sebagai bahan pakan. Namun, kualitas yang rendah (protein kasar sekitar 1,55% dan serat kasar 10,44% bahan kering), menjadi pembatas utama penggunaan onggok sebagai bahan pakan, baik untuk ternak monogastrik maupun ternak ruminansia. Untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, maka kualitas onggok perlu
ditingkatkan.

Pengolaha Onggok Terfermentasi Sebagai Bahan Pakan

Salah satu pendekatan yang sedang dirintis Balai Penelitian Ternak untuk meningkatkan kualitas onggok adalah melalui teknologi fermentasi/ biofermentasi. Proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan spora Aspergillus niger (koleksi Balitnak). Kegiatan diawali dengan pembiakan
spora pada media potatos dextrose agar (PDA), yang selanjutnya produksi spora dilakukan secara massal dengan menggunakan media beras yang telah dikukus selama 5 hari pada suhu ruang. Spora yang terbentuk dipanen, dikeringkan pada suhu 45oC dan digiling, untuk selanjutnya siap digunakan.
Setiap 1 kg onggok ditambahkan campuran mineral yang tersusun dari 40 g urea, 5 g MgSO4, 72 g ZA [(NH4)2 SO4], 1,5 g KCl, 15 g NaH2PO4 dan 0,75 g FeSO4. Onggok yang telah diberi campuran mineral tersebut selanjutnya diberi serbuk spora satu sendok makan (6-8 g), dan ditambahkan air panas untuk memperoleh kadar akhir adonan 60%. Selanjutnya adonan ditempatkan pada wadah/ baki plastik.Fermentasi dilakukan selama 3-5 hari.
Proses fermentasi yang berhasil ditandai dengan munculnya warna keabuan dan kompak pada permukaan adonan. Apabila ditemukan warna miselium yang kehitam-hitaman, berarti proses fermentasi berlangsung tidak sempurna atau telah terjadi kontaminasi. Onggok yang terfermentasi sempurna kemudian dipanen, dikeringkan, dan digiling untuk selanjutnya digunakan sebagai salah satu bahan baku ransum. Onggok yang difermentasi memiliki nilai gizi yang lebih baik dibanding yang tidak difermentasi. Kandungan protein kasar meningkat dari 2% menjadi 18% bahan kering, atau meningkat 900%. Sementara kandungan serat kasar onggok terfermentasi cenderung menurun.
Tabel 1. Komposisi gizi onggok
Gizi
Tanpa ferementasi (%BK)
Fermentasi (% BK)
Protein kasar
2,2
18,6
Karbohidrat
51,8
36,2
Abu
2,4
2,6
Serat Kasar
10,8
10,46

Onggok yang telah difermerntasi  dianalisa  kandungan  nutriennya,  antara  onggok  dan  onggok  terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 18,6%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8 menjadi 36,2% Sementara kandungan serat kasar onggok terfermentasi cenderung menurun. (Tabel1). Hal  ini  terjadi  karena  selama  fermentasi,  kapang  A.  niger  menggunakan  zat  gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2 menjadi 18,6%, dengan menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.
Penggunaan Sebagai Pakan
Hasil penelitian Tabrany S, dkk menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan Aspergillus niger sampai 4 minggu secara statistik sangat nyata (p<0,01) meningkatkan kandungan protein kasar onggok terolah dan menurunkan (p<0,01) kandungan HCN onggok terolah serta cenderung meningkatkan kandungan GE onggok terolah.
mutu onggok dapat ditingkatkan sebagai bahan baku pakan sumber protein, yang pemanfaatannya dapat dikembangkan pada  tingkat  peternak.  Bila  ditinjau  dari  aspek  kandungan  proteinnya,  maka kemungkinan ke depan, penggunaan onggok terfermentasi untuk pakan unggas memiliki prospek yang baik dan diharapkan dapat menggantikan jagung/dedak atau polard. Pengguna onggok terfermentasi   dalam   ransum   memberikan  efesiensi produksi yang lebih baik dan biaya produksi  lebih  rendah.
B.     Tepung Kulit Kakao
Kulit buah kakao (shel fod husk) adalah merupakan limbah agroindustri yang dihasilkan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) Buah coklat yang terdiri dari 74 % kulit buah, 2 % plasenta dan 24 % biji. Hasil analisa proksimat mengandung 22 % protein dan 3-9 % lemak (Nasrullah dan A. Ella, 1993). Pakar lain menyatakan kulit buah kakao kandungan gizinya terdiri dari bahan kering (BK) 88 % protein kasar (PK) 8 %, serat kasar (SK) 40,1 % dan TDN 50,8 % dan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40 %. Buah kakao perlu difermentasikan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin yang sulit dicerna oleh hewan dan untuk meningkatkan kadar protein dari 6-8 % menjadi 12-15 %. Pemberian kulit buah kakao yang telah diproses pada ternak sapi dapat meningkatkan berat badan sapi sebesar 0,9 kg/ hari.
Proses Pengolahan Dengan Fermentasi
Melalui proses fermentasi, nilai gizi limbah kulit buah kakao dapat ditingkatkan, sehingga layak untuk pakan penguat kambing maupun sapi, bahkan untuk ransum babi dan ayam. Salah satu fermentor yang cocok untuk limbah kulit buah kakao adalah Aspergillus niger . Manfaat fermentasi dengan teknologi ini antara lain :
- Meningkatkan kandungan protein
- Menurunkan kandungan serat kasar
- Menurunkan kandungan tanin (zat penghambat pencernaan)
Proses Pengolahan Limbah Kulit Buah Kakao dengan Fermentasi :
1. Dicingcang
2. Dibasahi larutan Aspergillus
3. Ditutup dengan goni/ plastik
4. Dikeringkan 2-3 hari
5. Digiling 


Proses Pengolahan Limbah Kulit Buah Kakao Tanpa Fermentasi
Kumpulkan limbah kulit buah kakao dari hasil panen lalu dicingcang. Kemudian dijemur pada sinar matahari sampai kering yang ditandai dengan cara mudah dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas. Setelah kering ditumbuk dengan menggunakan lesung atau alat penumbuk lainnya, kemudian dilakukan pengayakan. Untuk meningkatkan mutu pakan ternak, maka tepung kulit buah kakao dapat dicampur dengan bekatul dan jagung giling masing-masing 15 %, 35 % dan 30 %. Ini artinya bahwa ransum tersebut terdiri atas 15 % tepung kulit buah kakao, 35 % bekatul dan 30 % jagung giling.
Tabel 2. Komposisi kulit buah kakao segar dan fermentasi
Nutrisi
Kulit kakao segar
Kulit kakao fermentasi
Bahan kering %
14,5
18,4
Protein %
9,15
12,9
Lemak %
1,25
1,32
Serat kasar %
32,7
24,7
TDN %
50,3
53,2
Ca
0,29
0,21

Penggunaan Sebagai Pakan
1.     Pada awal pemberian, biasanya ternak tidak langsung mau memakannya. Karena itu berikanlah pada saat ternak lapar dan bila perlu ditambah sedikit garam atau gula untuk merangsang nafsu makan.
2.     Tepung limbah hasil fermentasi bisa langsung diberikan kepada ternak, atau disimpan. Penyimpanan harus dengan wadah yang bersih dan kering.
3.      Untuk ternak ruminansia (sapi, kambing) limbah kakao olahan bisa dijadikan pakan penguat, untuk mempercepat pertumbuhan atau meningkatkan produksi susu. Bisa diberikan sebagai pengganti dedak, yakni sebanyak 0,7-1,0 % dari berat hidup ternak.
4.      Pada ayam buras petelur pemberian limbah kakao sebagai pengganti dedak hingga 36 % dari total ransum dapat meningkatkan produksi telur. Kulit Buah Kakao Dikeringkan/ Dijemur Ditumbuk Diayak Pencampuran Pakan Ternak
5.     Pada ternak kambing menunjukkan bahwa ternak nampak sehat, warna bulu mengkilat dan pertambahan berat badan ternak dapat mencapai antara 50-150 gram per ekor per hari.
6.      Untuk babi dapat juga diberikan sebagai pengganti dedak padi dalam ransum sekitar 35-40 %.

C.    Kulit Pisang Sebagai Probiotik
Pada beberapa penelitian menunjukkan pemberian pakan buatan yang mengandung tepung kulit pisang dapat meningkatkan produksi ayam kampung dilihat dari pertambahan berat badan, konsumsi pakan, konversi pakan, kadar kolesterol dalam serum darah, daging, hati, feses, dan berat organ pencernaan.
Pemberian pakan buatan yang mengandung tepung kulit pisang juga dapat menghasilkan daging ayam broiler dengan kadar kolesterol rendah. Hal ini menunjukkan kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai pakan unggas yang dapat menghasilkan produk yang rendah kolesterol. Oleh karena itu, diperlukan produk ternak unggas yang sehat dan rendah kolesterol. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kulit pisang sebagai pakan unggas.
Pengolahan Kulit Pisang
Untuk menghasilkan prebiotik dari kulit pisang akan difermentasikan menggunakan bakteri isolate rumen. Teknik fermentasi akan mengunakan metoda Tilley and Terry (1963) yang biasa digunakan dalam kajian kecernaan pakan.
Kandungan Nutrisi  kulit pisang :

-      1,00 gram protein
-      28 gram karbohidrat
-      2,8 gram serat
-      0,6 gram lemak
-      467 mg natrium
-      1,00 mg kalium
-      9.2 mg kalsium
-      44,1 mg magnesium
-      5,1% vitamin A
-      20% vitamin C
-      vitamin B
-      2,6% tiamin
-      5,3% riboflavin
-      dan 4% niasin  (US RDA, 1963 dan Margen, 2002).
Penggunaan Sebagai Pakan
Prebiotik kulit pisang sangat berpotensi untuk menggantikan  antibiotik dalam pakan sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari penggunaan antibiotik tersebut. Selain itu dapat membantu dalam pengolahan limbah kulit pisang yang memiliki jumlah yang sangat banyak. Kulit pisang mengandung serat kasar sehingga dapat difermentasi dengan bantuan mikroba isolate rumen menjadi oligo-fruktosa yang merupakan bahan dasar dari prebiotik. Melalui penggunaan prebiotik dapat menciptakan peternakan organic yang ramah lingkungan
D.    Tepung Umbi jalar
Umbi jalar (Ipomea batatas) merupakan produk negara-negara Asia (90% dari produk dunia). Umbi jalar digunakan sebagai pakan sumber energi, kandungan energinya mirip dengan jagung. Namun kandungan proteinnya rendah sekali. Anti nutrisi terdapat pada umbi segar, yaitu anti tryptic, namun dapat dihilangkan dengan pengeringan. Perebusan sebelum pengeringan akan memberikan hasil yang baik karena dapat meningkatkan nilai pakan. Karena berbentuk tepung, penggunaannya tidak dapat menggantikan jagung secara keseluruhan. Penggunaannya direkomendasikan sampai batas 24-30% untuk mendapatkan hasil yang baik. Apabila suplementasi protein dan penghilangan kulit umbi dilakukan, maka penggunaan sampai batas 50% dapat dilakukan.
Komposisi Nutrisi
Tabel 1. Kandungan gizi dalam tiap 100 gram ubi jalar segar
No.
Kandungan gizi
Banyaknya dalam umbi
Putih
Merah
Kuning *)
1
Kalori (kal)
123,00
123,00
136,00
2
Protein (g)
1,80
1,80
1,10
3
Lemak (g)
0,70
0,70
0,40
4
Karbohidrat (g)
27,90
27,90
32,30
5
Kalsium (mg)
30,00
30,00
57,00
6
Fosfor (mg)
49,00
49,00
52,00
7
Zat besi (mg)
0,70
0,70
0,70
8
Natrium (mg)
-
-
5,00
9
Kalium (mg)
-
-
393,00
10
Niacin (mg)
-
-
0,60
11
Vitamin A (SI)
60,00
7.700,00
900,00
12
Vitamin B1 (mg)
0,90
0,90
0,10
13
Vitamin B2 (mg)
-
-
0,04
14
Vitamin C (mg)
22,00
22,0
35,00
15
Air (g)
68,50
68,50
-
16
Bagian yang dapat dimakan (%)
86,00
86,00
-
Keterangan : *) Food and Nutrition Research Center Handbook I, Manila -) tidak ada data. Sumber : Direktorat Gizi depkes RI, 1981
Kandungan pati ubi jalar dipengaruhi oleh umur tanaman. Semakin meningkat umur panen, kandungan pati umbi juga semakin meningkat, tetapi setelah mencapai titik tertentu kandungan patinya akan semakin menurun. Hal ini sesuai dengan fase pertumbuhan ubi jalar di mana saat awal pertumbuhan terjadi pemanjangan dan pertumbuhan cabang-cabang baru. Semakin banyak cabang, permukaan daun makin luas, sehingga penyerapan sinar matahari semakin tinggi. Akibatnya, diperoleh hasil fotosintesa (berupa pati) yang cukup banyak. Namun, semakin tua umur tanaman, aktifitas tanaman semakin menurun. Fenomena ini mengakibatkan kadar pati umbi akan menurun dengan semakin tua umur umbi (Edmond and Ammerman, 1971 dalam Antarlina 1991)


Daftar Pustaka


Anonim, 2011. http://lordbroken.wordpress.com/category/keilmuan/pangan-hasil-perkebunan/page/2/
Edmond, J. B. and G. R. Ammerman. 1971. Sweet Potatoes: Production, Processing, and Marketing. Wesport, Connecticut. The AVI Publishing, Co. Inc.
Nuraini, Sabrina & S.A. Latif 2008. Peforma Ayam dan Kualitas Telur yang Menggunakan Ransum Mengandung Onggok Fermentasi dengan Neurospora Crassa. Media Peternakan. Universitas Andalas: 195-201
Sinurat,   a.p.,   p.   Setiadi,   a.   Lasmini,   a.r.Setioko, t. Purwadaria, i.p. Kompiang dan J.    Darma.  1995.   Penggunaan   Cassapro (Singkong Terfermentasi) untuk Itik Petelur. Ilmu dan Peternakan 8(2): 28-31
Supriati, DKK 2004, Onggok Terfermentasi Sebagai Bahan Baku Pakan ayam Kampung Petelur. Balai Penelitian Ternak. Malangbong Garut: 82-85
Tilley, J. M. A. & R. A. Terry. 1963. A two stage technique for the in vitro digestion of forage crops. Journal of the British Grassland Society, 18: 104 - 111

Wawo.  B . Mengolah Limbah Kulit Buah Kakao Menjadi Bahan Pakan Ternak . Penyuluh Pertanian Madya.














1 komentar: