daun berguguran

Rabu, 05 September 2012

FEED ADITIVE (IMBUHAN PAKAN)


FEED ADITIVE (IMBUHAN PAKAN)

Additive adalah susunan bahan atau kombinasi bahan tertentu yang sengaja ditambahkan ke dalam ransum pakan ternak untuk menaikkan nilai gizi pakan guna memenuhi kebutuhan khusus atau imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak. Murwani et al., (2002) menyatakan bahwa additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Sedangkan menurut Murtidjo (1993), additive adalah imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak. Penambahan bahan biasanya hanya dalam jumlah yang sedikit, misalnya additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen dan additive bahan premix. Maksud dari penambahan adalah untuk merangsang pertumbuhan atau merangsang produksi. Macam-macam additive antara lain antibiotika, hormon, arsenikal, sulfaktan, dan transquilizer.
Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika (Anggorodi, 1985). Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin-vitamin, mineral dan antibiotika dalam ransum, menjaga dan mempertahankan kesehatan tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan badan (pertumbuhan daging menjadi baik) dan menambah nafsu makan, meningkatkan produksi daging maupun telur.
Imbuhan Pakan (feed additives) adalah setiap bahan yang tidak lazim dikonsumsi ternak sebagai pakan, yang dengan sengaja ditambahkan, memiliki atau tidak memiliki nilai nutrisi, dapat mempengaruhi karakteristik pakan atau produk hewan. bahan tersebut meliputi microorganisme, enzim, pengatur keasaman, mineral, vitamin, dan bahan lain tergantung pada tujuan penggunaan dan cara pemakaiannya. Menurut Murwani et. al. (2002) additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Zat additive yang diberikan pada ternak digolongkan menjadi 4, yaitu :
  1. vitamin tambahan
  2. mineral tambahan
  3. antibiotik
  4. anabolik (hormonal)
Macam ragam pakan additive antara lain additive pada bahan pakan (contohnya agensia antioksidan, agensia cita rasa), additive untuk manipulasi pencernaan dan absorpsi nutrien (contohnya buffer, enzim), additive untuk kesehatan ternak (contohnya obat cacing), additive melalui hormonal (contohnya hormon pertumbuhan, hormon reproduksi), additive untuk meningkatkan kualitas produk (contohnya agensi pewarna, agensi antiradikal).
Berbagai macam feed additive yang bersifat non nutritive menurut Wahju (1997) antara lain :
1. Makanan tambahan pelengkap untuk memperbaiki tekstur dan kekuatan pakan pellet 
2. Flavoring agent yaitu zat pemberi bau enak yang dipergunakan untuk meningkatkan palatabilitas pakan 
3.  enzim-enzim yang memperbaiki daya cerna di bawah kondisi tertentu
4. Antibiotika, senyawa-senyawa arsen dan nitrofurans dipergunakan pada tingkat rendah untuk melindungi pakan dari serangan perusakan oleh mikroorganisme dan mencegah timbulnya keracunan yang disebabkan oleh mikroflora dalam usus.
5. Antibiotika yang mempunyai spektrum luas (broad spectrum) dan daya absorpsi yang baik ditambahkan ke dalam pakan untuk memerangi penyakit khusus. 
6. Senyawa-senyawa kimia tertentu dipergunakan untuk meningkatkan daya penyembuhan dari antibiotika terhadap penyakit
7. obat-obat pencegah cacing dalam saluran pencernaan
8. Antioksidan untuk mencegah kerusakan asam-asam lemak yang tidak jenuh dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak karena proses peroksidas
9. sumber-sumber karotenoid ditambahkan dalam pakan untuk memperbaiki pigmentasi dari broiler dan kuning telur 
10. Hormon-hormon yang digunakan untuk memperbaiki metabolisme ayam antara lain :
a. Estrogen untuk memperbaiki pertumbuhan
b. Senyawa-senyawa thyroaktif untuk memperbaiki produksi telur, kualitas telur, kualitas kulit telur dan mencegah degenerasi lemak pada kondisi tertentu.
c. hormon untuk menghentikan molting (jatuh bulu).
Feed Additive merupakan bahan makanan tambahan pelengkap yang diberikan dengan beberapa tujuan diantaranya :    
  1. Memperbaiki kondisi fisik ransum, terutama yang dibuat pellet, baik dari segi warna  maupun tekstur ransum. Contohnya ialah bentonit. Warna dan tekstur ransum yang baik akan meningkatkan feed intake (nafsu makan, red) 
  2.  Memberikan aroma atau bau khas dari ransum (flavoring agent) sehingga palatabilitas atau rasa kesukaan terhadap ransum meningka   
  3. Memperbaiki atau meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi dari ransum. Beberapa feed additive yang berperan dalam hal ini ialah
Beberapa jenis imbuhan pakan yang diberikan pada ternak
A. Enzim
Enzim merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa yang komplek menjadi sederhana. Saat ini telah terindentifikasi lebih kurang 3000 enzim. Walaupun dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhan, penambahan enzim pada pakan kadang kala masih dibutuhkan. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti antinutrisi faktor pada bahan pakan (lekctins dan trypsin inhibitor), rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan, dan ketidak tersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak. Xylanase dan ß-glucanase adalah contoh-contoh enzym yang digunakan pada ternak monogastrik untuk meningkatkan daya cerna ternak. Rendahnya kemampuan ternak muda untuk mencerna protein pada kacang kedele (glycin dan ß-conglycin) dapat diatasi dengan penambahan enzim protease.
Enzim merupakan katalisator yang berperan mempercepat suatu reaksi kimiawi. Enzim phytase mulai banyak digunakan peternak yang berperan memecah ikatan phytate pada bahan ransum nabati, seperti jagung sehingga ketersediaan fosfor bisa meningkat. Kerja enzim ini akan optimal apabila jenis enzim sesuai dengan substratnya, kondisi lingkungan dan kesesuaian dosisnya.
Jenis-Jenis Enzim Dalam Industri Pakan Ternak
  Terdapat empat type enzim yang mendominasi pasar pakan ternak saat ini yaitu enzim untuk memecah serat, protein, pati dan asam pitat (Sheppi, 2001).
1.    Enzim Pemecah Serat
Keterbatasan utama dari pencernaan hewan monogastrik adalah bahwa hewan-hewan tersebut tidak memproduksi enzim untuk mencerna serat. Pada ransum makanan ternak yang terbuat dari gandum, barley, rye atau triticale (sereal viscous utama), proporsi terbesar dari serat ini adalah arabinoxylan dan ß-glucan yang larut dan tidak larut (White et al., 1983; Bedford dan Classen, 1992 diacu oleh Sheppy, 2001).  Serat yang dapat larut dan meningkatkan viskositas isi intestin yang kecil, mengganggu pencernaan nutrisi dan karena itu menurunkan pertumbuhan hewan.
Kandungan serat pada gandum dan barley sangat bervariasi tergantung pada varitasnya, tempat tumbuh, kondisi iklim dan lain-lain.  Hal ini dapat menyebabkan variasi nilai nutrisi yang cukup besar di dalam ransum makanan.  Untuk memecah serat, enzim-enzim xylanase dan ß-glucanase) dapat menurunkan tingkat variasi nilai nutrisi pada ransum dan dapat memberikan perbaikan dari pakan ternak sekaligus konsistensi responnya pada hewan ternak.  Xylanase dihasilkan oleh mikroorganisme baik bakteri maupun jamur.   
 Penelitian pemanfaatan xilanase untuk membuat ransum ayam boiler telah dilakukan oleh Van Paridon et al. (1992), dengan melihat penga-ruhnya terhadap berat yang dicapai dan efisiensi konversi makanan ser-ta hubungannya dengan viskositas pencernaan. Hal yang sama juga di-lakukan oleh Bedford dan Classen (1992), yang melaporkan bahwa ransum makanan ayam boiler yang diberi xilanase yang berasal dari T.longibrachiatum  mampu mengurangi viskositas pencernaan, sehingga meningkatkan pencapaian berat dan efisiensi konversi makanan.
Pius P Ketaren, T. Purwadaria dan A. P Sinurat dari Balai Penelitian Ternak, Bogor, juga melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat pengaruh suplementasi enzim pemecah serat kasar terhadap penampilan ayam pedaging. Suplementasi diberikan dengan menambahkan enzim xilanase kedalam ransum basal dedak atau polar. Penelitian ini menggunakan 120 anak ayam pedaging umur sehari yang dialokasikan secara acak kedalam 20 kandang yang masing-masing berisi 6 ekor. Ayam-ayam tersebut dikenai 4 perlakuan. Perlakuan I, ayam diberi ransum basal 30% dedak (RBD). Perlakuan II, ransum RBD + 0,01% enzim xilanase (RBD + E). Perlakuan III diberi ransum basal 30% polar (RBP) dan perlakuan IV dengan ransum RBP + 0,01% enzim xilanase (RBP + E). Setiap perlakuan diulang 5 kali dan tiap ulangan terdiri dari 6 ekor. Seluruh kandang/pen ditempatkan dalam bangunan tertutup yang dilengkapi dengan lampu penerang, pemanas dan pengatur sirkulasi udara, yang diatur sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan ransum dan air minum disediakan secara tak terbatas. Anak ayam juga divaksin pada umur 4 dan 21 hari untuk mencegah ND dan pada umur 14 hari untuk mencegah Gumboro. Konsumsi ransum, pertambahan bobot badan (PBB), feed conversion ratio (FCR) dan mortalitas digunakan sebagai parameter dan diukur setiap minggu selama 5 minggu perlakuan.
 Hasil riset memperlihatkan PBB ayam pedaging yang diberi ransum basal polar dengan suplementasi enzim cenderung tumbuh lebih cepat dibanding ayam pedaging yang memperoleh ransum lain. Dalam penelitian ini, suplementasi enzim xilanase sebanyak 0,01% kedalam ransum basal dedak maupun polar tidak berpengaruh negatif terhadap penampilan broiler. Hal ini tampak dari tidak adanya mortalitas selama penelitian berlangsung. FCR ayam pedaging yang diberi ransum basal polar dengan suplementasi enzim secara nyata lebih baik dibanding ransum FCR ayam pedaging yang diberi ransum lain.
 Berdasarkan penampilan ayam pedaging tersebut terlihat bahwa suplementasi enzim kedalam ransum basal polar mampu meningkatkan efisiensi penggunaan ransum sekitar 4%, sebaliknya suplementasi enzim kedalam ransum basal dedak tidak mampu memperbaiki efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging. Ini membuktikan bahwa enzim xilanase yang digunakan dalam penelitian ini lebih efektif apabila digunakan pada polar, yang diketahui mengandung lebih banyak xilan/pentosan  atau glucan dibanding dedak.
Peningkatan penampilan ayam pedaging yang diberi ransum basal polar dengan suplementasi enzim xilanase ini, kemungkinan juga berkaitan dengan peningkatan kecernaan protein dan lemak disamping kenaikan kecernaan serat kasar. Dengan peningkatan kecernaan gizi dan pertumbuhan unggas tersebut, dapat mendorong peningkatan penggunaan bahan pakan lokal yang tersedia di dalam negeri. Kondisi ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian perunggasan nasional.( www.poultryindonesia.com)
2.       Enzim Pemecah Protein
Berbagai bahan mentah yang digunakan sebagai bahan pakan ternak mengandung protein.  Terdapat variasi kualitas dan kandungan protein yang cukup besar  dari bahan mentah yang  berbeda.  Dari sumber bahan protein primer seperti kedelai, beberapa faktor anti nutrisi seperti lectins dan trypsin inhibitor dapat memicu kerusakan pada permukaan penyerapan, karena ketidaksempurnaan proses pencernaan.  Selain itu belum berkembangnya sistem pencernaan pada hewan muda menyebabkan tidak mampu menggunakan simpanan protein yang besar di dalam kedelai (glycin dan ß-conglycinin).
Penambahan protease dapat membantu menetralkan pengaruh negatif dari faktor anti-nutrisi berprotein dan juga dapat memecah simpanan protein yang besar menjadi molekul yang kecil dan dapat diserap.
3.      Enzim pemecah Pati
Jagung merupakan sumber pati yang sangat baik sehingga para ahli gizi menyebutnya sebagai bahan mentah standard emas.  Sebagian besar ahli gizi tidak mempertimbangkan pencernaan jagung adalah jelek: kenyataannya bahwa 95 %  dapat dicerna.  Namun hasil penelitian Noy dan Sklan (1994) yang diacu oleh Sheppi (2001), pati hanya dicerna tidak lebih dari 85 % pada ayam broiler umur 4 dan 21 hari.  Penambahan enzim amylase pada makanan ayam dapat membantu mencerna pati lebih cepat di intestin yang kecil dan pada gilirannya dapat memperbaiki kecepatan pertumbuhan karena adanya peningkatan pengambilan nutrisi.
Pada masa aklimatisasi, anak ayam sering menderita shok karena perubahan nutrisi, lingkungan dan status imunitasnya.  Penambahan amilase, biasanya juga bersamaan dengan penambahan enzim lain, untuk meningkatkan produksi enzim endogeneous telah terbukti dapat memperbaiki pencernaan nutrisi dan penyerapannya.
4.      Enzim Pemecah Asam pitat
Phospor merupakan unsur esensial untuk semua hewan, karena diperlukan untuk mineralisasi tulang, imunitas, fertilitas dan juga pertumbuhan.  Swine dan Unggas hanya dapat mencerna Phospor dalam bentuk asam pitat yang terdapat dalam sayur sekitar 30-40 %.  Phospor yang tidak dapat dicerna akan keluar bersama kotoran (feces) dan menimbulkan pencemaran.
Enzim pytase dapat memecah asam pytat, maka penambahan enzim tersebut pada pakan ternak akan membebaskan lebih banyak phospor yang digunakan oleh hewan.
 Enzime phytase banyak dikenal dapat menghilangkan pengaruh anti nutrisi asam phitat. Penggunaan enzime phytase  dalam pakan akan mengurangi keharusan penambahan sumber-sumber fosfor anorganik   mengingat fosfor asal bahan baku tumbuhan terikat dalam asam phitat yang mengurangi ketersediaannya dalam pakan. Padahal suplementasi fosfor anorganik misalnya mengandalkan di calcium phosphate maupun mono calcium phosphate relatif mahal belakangan ini. Di samping itu, fosfor yang terikat dalam asam phitat yang tidak bisa dicerna sempurna oleh sistem pencernaan hewan monogastrik akan ikut dalam feses dan menjadi sumber polutan yang berpotensi mencemari tanah. Fosfor adalah tidak terurai dalam tanah sehingga dalam jangka panjang, pembuangan feses dengan kandungan fosfor tinggi akan menimbulkan masalah bagi tanah. 
Terdapat dua keuntungan menggunakan phytase dalam pakan ternak yaitu (1) pengurangan biaya pakan dari pengurangan suplemen P pada makanan dan (2) pengurangan polusi dari berkurangnya limbah melalui feces.
Sumber Phytase
 Phytase dapat dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu 6-phytase dan 3-phytase.  Penggolongan ini berdasarkan pada tempat awal molekul phytat dihidrolisis.  6-phytase umumnya ditemukan dalam tanaman, sedangkan 3-phytase dihasilkan oleh jamur (mikroorganisme) (Dvorakova, 1998, diacu oleh Maenz, 2001).
a.      Phytase Tanaman
Hampir semua tanaman mempunyai aktivitas phytase namun jumlah dan aktivitasnya sangat bervariasi cukup besar antar tanaman.  Eeckhout dan De Paepe (1994) telah mengevaluasi level phytase pada 51 feedstuffs yang digunakan di Belgia dan menyimpulkan bahwa aktivitas phytase terdapat pada biji sereal seperti rye, triticale, gandum, barley sedangkan feedstuff lainnya termasuk kedelai mengandung aktivitas phytase yang sangat rendah (Maenz, 2001).  Kandungan P pada wheat untuk makanan unggas berkisar 45 sampai 70 % (Barrier-Guillot et al, 1996, diacu oleh Maenz, 2001). Lebih lanjut Barrier-Guillot et al., 1996) mengukur aktivitas phytase pada 56 contoh gantung yang tumbuh di Perancis tahun 1992 dan mendapatkan variasi aktivitas phytase antara 206 sampai 775 mU per gram. 
Studi yang dilakukan oleh Kemme et al., (1998) diacu oleh Maenz (2001) terhadap degradasi asam pitat pada pencernaan babi (pigs) menunjukkan bahwa, bila diberi makan jagung, maka tingkat degradasinya adalah 3 %, phytase pada jagung 91 unit/kg, diberi makan campuran jagung-barley, tingkat degradasinya 31 %, phytase pada campuran gandum-barley 342 unit/kg dan jika diberi makan campuran gandum-barley, tingkat degradasinya 47 %, kandungan phytase pada campuran ini adalah 1005 unit/kg.  Studi ini menunjukkan bahwa tingginya kandungan phytase pada gandum dan barley dapat membantu meningkatkan tingkat kecernaan asam phytat pada hewan.
b.       Phytase Mikroorganisme
Enzime hydrolitik yang menguraikan asam phytat dihasilkan oleh berbagai macam mikroorganisme.  Dvorakova (1998) yang diacu oleh Maenz (2001) mengatakan bahwa ada 29 jenis jamur, bakteri dan ragi yang menghasilkan enzime phytase.  Dari 29 jenis tersebut, 21 jenis diantaranya menghasilkan enzime phytase extraceluler.  Strain jamur Aspergilus niger menghasilkan aktivitas phytase extraseluler yang tinggi (Volfova et al., 1994) yang diacu oleh Maenz (2001).
Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Enzim
 Enzim mempunya sifat yang unik, akan menunjukkan aktivitasnya pada kondisi lingkungan yang cocok, baik pH maupun Suhu.  Masing-masing jenis enzim mempunya kisaran pH dan suhu optimalnya. Pelet pakan ternak dibuat melalui proses pemanasan pada suhu tinggi, karena itu kestabilan enzim terhadap perlakuan panas pada industri pakan sangat diperlukan.
Enzim bekerja sebagai katalisator untuk mempercepat suatu proses reaksi kimia, karena itu aktivitasnya juga akan ditentukan oleh dosis enzim itu sendiri.  Pemberian enzim exogeneous harus mempertimbangkan juga enzim endogeneous yang sudah ada pada hewan, karena itu sebelum membuat formulasi produk harus dilakukan penelitian terlebih dahulu dan dilihat performance hewannya pada berbagai tingkatan umur.
Metoda analisis yang mudah dan tepat untuk menentukan jumlah enzim yang aktif  juga merupakan suatu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian dari para ilmuwan,  Dengan adanya metode analisis yang akurat dan cepat makan akan sangat mempermudah pembuatan formulasi produk pakan ternak.
Walaupun telah terbukti bahwa suplemen enzim dapat meningkatkan produksi ternak, namun karena untuk mendapatkan enzim itu sendiri tidak mudah maka produk pakan ternak berenzim harganya menjadi mahal, karena itu komponen biaya lain dari produksi pakan sedapat mungkin dapat ditekan sehingga akan menurunkan harga pakan ternak berenzim.  Hal lain yang perlu dilakukan adalah melakukan penelitian untuk mendapatkan enzim secara mudah dan murah.
Indonesia merupakan negara yang mempunya julukan megadiversiti, karena itu explorasi untuk mendapatkan sumber penghasil enzim baru  sangat dimungkinkan, baik dari jamur maupun bakteri.  Saat ini belum banyak enzim termostabil yang dihasilkan dari Indonesia, padahal sumber-sumber baik bakteri maupun jamur dari lokasi kawah sangat berlimpah.
B.     Penggunaan Hormon Pemacu Pertumbuhan
Yang dimaksud dengan frowth hormon ialah himpunan sejumlah hormon yang berfungsi mengatur pertumbuhan. Hormon pertumbuhan dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan dikenal dengan STH (Somato Tropic Hormone = Somatotropin). Mekanisme kerjanya langsung dan tidak langsung terhadap pertumbuhan. Efek langsungnya sebagai anti-insulin, sedangkan efek tidak langsungnya ialah terhadap reseptor dalam hati yang kemudian hati mengeluarkan beberapa hormon polipeptida lain. Secara kolektif disebut Somatomedin yang juga sering disebut Insulinlike Growth Factor I dan II atau IGF – I dan IGF – II dengan rangkaian asam amino 70 dan 67. Hormon ini merangsang proliferasi sel dan melakukan negative feed back terhadap pengeluaran STH.
Hormon lain yang ada kaitannya dengan pertumbuhan, poliferasi dan diferensiasi sel spesifik antara lain erythropoietin, nerve growth factor, epidermal and fibroblast growth factor, platelet derived growth factor , dan sejumlah hormon thymine seperti thymosin, thymopoetin, serum thymic factor dan lain-lain. Insulin merupakan hormon polipeptida yang di samping bekerja terhadap metabolisme karbohidrat dan lemak, juga mempunyai peranan penting dalam regulasi pertumbuhan. Prolaktin memegang peranan penting dalam pertumbuhan kelenjar mammae selama akhir stadia kebuntingan. Laktogen plasenta sangat berperan terhadap pertumbuhan fetus. Anabolic steroid pada diduga mampu meningkatkan myogenesis dan meningkatkan lipolisis, namun sangat bergantung kepada unur hewannya. Jadi, hormon pemacu pertumbuhan adalah himpunan beberapa hormon yang ada kaitannya dengan pertumbuhan.
Hormon pertumbuhan utama yang digunakan dalam produksi ternak adalah anabolic steroid dan Growth Hormone. Namun yang menjadi perhatian dewasa ini ialah bovine somatotropin ( bST, bGH ) dan porcine (babi) somatotropin (pST, pGH). Porcine somatotropin, walaupun sangat efektif meningkatkan pertumbuhan , sudah jelas tidak diharapkan masuk, karena permasalahan agama. Fungsi fisiologis hormon ini ialah mempengaruhi metabolisme yang berkaitan dengan pertumbuhan melalui stimulasi sintesis protein, meningkatkan transpor asam amino ke dalam sel, mempengaruhi metabolisme karbohidrat, meningkatkan glucogenesis dalam hati, merangsang mobilisasi lemak tubuh, mempengaruhi metabolisme mineral dan memacu pertumbuhan tulang rawan, yang pada gilirannya memacu pertumbuhan.
Sekarang berkembang hormon recombinant antara lain recombinant bovine growth hormone dan recombinant bovine somatotropin (rBGH dan rBST). Salah satu produk dibuat oleh Mosanto corporation melalui rekayasa genetik yakni rBGH dengan nama perdagangan Posilac yang dikenal juga sebagai BST atau BGH atau rBGH. Applikasinya bervariasi bergantung kepada produk mana yang digunakan. Sebagian digunakan secara injeksi dan sebagian dengan cara inplantasi. Cara aplikasi ini sangat menentukan kandungan hormon dalam darah dan organ tubuh.
Penggunaan pada Sapi Perah
Pada perusahaan sapi perah, khususnya perusahaan besar, banyak menggunakan rBGH sebagai milk-stimulating hormone. Applikasi pada sapi perah di Amerika Serikat secara injeksi dan banyak digunakan rBST. Dalam penelitian produksi susu, ternyata hormon ini dapat meningkatkan produksi susu sampai 10%. Namun, kemudian dalam aplikasinya banyak perusahaan mengeluh, karena efeknya hampir tidak ada. The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry, Canada, pada hari Senin tanggal 26 April 1999 di Ottawa, menyelenggarakan diskusi penggunaan rBGH pada sapi perah. Ratusan laporan dari peternak dan asosiasi peternak, yang mengemukakan bahwa bila BGH dan BST diberikan pada sapi perah akan terjadi metabolit IGF-I disebut juga myotrophin digunakan sebagai obat untuk pertumbuhan syaraf pada manusia, namun kemudian FDA menyelenggarakan diskusi panel yang kesimpulannya bahwa IGF-I (myotrophin) ditolak sebagai obat, karena menimbulkan bnyak kematian pada manusia (The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry, 1999).
Sebelum tahun 1995 perusahaan sapi perah besar menggunakan milk-stimulating hormone (rBGH), namun sejak tahun 1995 di California penggunaan rBGH menurun dan bahkan pada cuaca buruk, penggunaan rBGH ini justru menimbulkan stress. Injeksi rBGH menurunkan harapan hidup sapi perah, meningkatkan resiko penyakit, sapi perah bobotnya menurun, kadang-kadang jadi infertil dan lebih peka terhadap mastitis. Lebih lanjut bahwa banyak peternak mulai ketakutan menggunakan rBGH, karena adanya masalah kelainan reproduksi. Di Amerika Serikat, para dokter hewan tidak menentang penggunaan rBGH, tetapi dokter hewan di Jerman secara formal menolak penggunaan rBGH dan dianggap melanggar kode etik (Rachel, 1996).
Hasil penelitian terhadap Posilac (nama perdagangan rBGH dari Monsanto) air susu sapi yang diberi rBGH mengandung Metabolit IGF-I atau dikenal dengan myotrophin dan IGF-I merupakan penyebab tumor kolon, menimbulkan cepatnya pembelahan sel, merupakan acute diabetes induction pada anak-anak dan menimbulkan antibodi berkaitan dengan diabetes. IGF-I secara alami terdapat pada sapi dan manusia dan molekulnya ternyata identik. Selanjutnya IGF-I tidak mngurai dengan pasturisasi, sehingga IGF-I yang terdapat dalam susu sapi yang diberi strukturnya dengan hormon alami (Rachel, 1996).
Penggunaan pada Sapi Potong
Pada sapi potong, penggunaan zat pemacu pertumbuhan masih bersimpang siur. Hormon yang diimplantasikan pada telinga seperti terlihat pada sapi impor dari Australia, dapat meningkatkan berat sekitar 14% dan memperbaiki konversi pakan antara 6-10%. Banyak hormon perdagangan yang digunakan antara lain Ralgo, Synovex C, Zeranol, Revalor S, Revalor H, Posilac dan lain-lain.
Lima organisasi yakni WHO, the United Nations Food and Agricultural Organization, the European Commission Scientific Working Group on Anabolic Agents in Animal production, dan the Codex Alimentarius Commission, menyatakan bahwa penggunaan hormon yang sudah mendapat pengawasan dan disartifikasi adalah aman bagi produksi sapi potong. Walaupun demikian, untuk penggunaan hormon ini harus tercatat, sesuai dengan teknologi trbaru, penggunaannya terprogram. Di Australia Barat, hnya retailer yang tercatat boleh menjual hormon HGP’s. Setiap pengecer harus menyediakan format perjanjian dengan pembeli.
Pada tanggal 26 April 1999, The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry, Canada, menerbitkan hasil diskusi mengenai status pertanian sekarang dan masa yang akan datang di Canada. Anggota Komite umumnya tidak percaya, karena belum banyak bukti, tentang resiko yang timbul pada manusia yang mengkonsumsi susu dari sapi yang diberi rBST. Tetapi, Environmental Research Foundations, Annapolis, USA, menyatakan bahwa hormon BST atau BGH atau rBGH yang nama perdagangannya POSILAC ditentang mati-matian oleh kelompok konsumen di lapangan, karena (1) untuk sapi tidak baik, (2) masyarakat merasa lebih aman peningkatan produksi tanpa zat kimia, (3) di Amerika tidak diperlukan, karena produksi sapi perah sudah cukup, (4) dampaknya pada manusia tidak diketahui.
Pada tanggal 30 April 1999, Masyarakat Eropa menerbitkan laporan mengenai pendapat the Scientific Committee on Veterinary Measures Public Health (SCVPH). Dalam laporan di atas bahwa hormon aktif yang digunakan untuk memacu pertumbuhan pada sapi, potensial berisiko bagi kesehatan manusia akibat residu pada daging dan produk daging. Yang diteliti adalah enam hormon steroid yakni oestradiol-17B, testosterone, zeranol, progesterone, trebolone acetate dan melenogestrol acetate. The SCVPH menyimpulkan bahwa resiko akibat mengkonsumsi daging dari sapi yang diberi hormon steroid pemacu pertumbuhan lebih tinggi dari dugaan semula (Sub-Group of the Veterinary Products Committee, 1999).
Dampak Positif Dan Negatif Penggunaan Hormon
Secara umum, tidak disangsikan lagi bahwa hormon mengontrol reproduksi dan pertumbuhan/perkembangan, dan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan produksi susu. Namun banyak peternak menolak dengan alasan tidak ada jaminan yang pasti tentang keamanan produk, ada keraguan tentang kredibilitas FDA, ada anggapan bahwa ilmuwan kurang memperhatikan keadaan ini dan tidak benar-benar netral. Di samping itu banyak juga yang mnerima, karena secara alami hormon tersebut sudah ada dalam tubuh, persetujuan FDA merupakan suatu kepercayaan, merasakan adanya efisiensi produksi, sehingga mendorong pengurangan biaya produksi, dan lain-lain. Dari ungkapan di atas, jelas adanya kontroversi yang cukup beralasan, karena belum ada penelitian yang benar-benar menjurus ke arah itu.
Dari penelitian secara partial, tidak disangsikan lagi bahwa hormon seks eksogenous dalam level yang tinggi dapat mengggangu proses fisiologis tubuh. Bahkan dalam beberapa kasus dapat secara permanen mengganggu beberapa aspek kegiatan fifiologis. Somatotropin alami sudah sejak lama diketahui dan digunakan sebagai pemacu roduksi ternak, dan menunjukkan adanya efisiensi produksi. Namu, belakangan setelah didapat somatotropin produk rekayasa genetik, terjadi sorotan tajam, karena diduga adanya residu yang mengganggu kesehatan manusia. Rupanya produksi asam amino pada ribosoma bakteri terlalu kuat mempengaruhi sapi dan terus aktif, sehingga berbahaya bagi manusia.
Hormon pemacu pertumbuhan terdiri atas hormon non-steroid yakni hormon protein atau lebih tepat disebut hormon polypeptide yang terdiri atas sekitar 190 asam amino berikatan satu dengan yang lainnya dalam sebuah molekul polypeptide. Komposisi asam aminonya berbeda antar spesies. Kelompok non-steroid antara lain Bovine Somatotropin (bST, bGH) dan Porcine (babi) Somatotropin (pST , pGH) dengan beberapa nama perdagangan. Hormon lain ialah kelompok hormon steroid antara lain, Oestradiol 17 B, Progesterone, Testosterone, Melengestrol acetate, Trenbolonce acetate, Zerano.
Fungsi fisiologis hormon ini ialah mempengaruhi proses metabolisme yang menyangkut pertumbuhan melalui stimulasi sintesis protein, meningkatkan transportasi asam amino ke dalam sel, mempengaruhi metabolisme karbohidrat, glucogenesis dalam hati, memacu mobilisasi lemak tubuh, mempengaruhi metabolisme mineral dan memacu pertumbuhan tulang rawan. Keuntungan dan kerugian penggunaan hormon dalam produksi ternak dan dampak produk tersebut terhadap konsumen masih simpang siur.
Tantangan ilmiahnya ialah manusia harus memahami cara pengendalian agar keberadaan campuran zat kimia yang kompleks tersebut serendah mungkin pada setiap stadia perkembangan manusia, sebab dapat menimbulkan pengaruh terhadap “hormonal pathways”. Sejauh ini belum ada bukti bahwa bila level hormon sex exogenous cukup rendah dapat menggangu reproduksi dan perkembangan manusia.
C.    Antibiotik
Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh berbagai jasad renik, seperti bakteri dan jamur yang memiliki fungsi menghentikan pertumbuhan atau membunuh jasad renik. Penicillin dihasilkan oleh Penicillium, Cephalosporin dihasilkan oleh Cephalosporium. Antibiotik yang diperoleh secara alami oleh mikroorganisme disebut antibiotik alami, antibiotik yang disintesis di laboratorium disebut antibiotik sintetis, seperti sulfa. Antibiotik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan dimodifikasi di laboratorium dengan menambahkan senyawa kimia disebut antibiotik semisintetis.
Berdasarkan cara kerjanya, antibiotik dibedakan dalam 4 kelompok, yaitu:
1.        Antibiotik penghambat sintesis dinding sel, misalnya Penicillin, Bacitrasin, Novobiosin, Sefalosporin dan Vancomisin
2.        Antibiotik perusak membrane sel, misalnya Polimixin, Colistin, Novobiosin, Gentamisin, Nistatin dan Amfoterisin B
3.        Antibiotik penghambat sintesis protein, misalnya Tetrasiklin, Khloramfenikol, Neomisin, Streptomisin, Kanamisin, eritromisin, Oleandomisin, Tilosin dan Linkomisin
4.        Antibiotik penghambat sintesis asam nukleat, misalnya Aktinomisin, Sulfonamida dan derivat kuinolon.
Antibiotik dibedakan juga berdasarkan kemampuannya menekan pertumbuhan atau membunuh bakteri, yaitu :
a.       Antibiotik bakterisidal adalah antibiotik yang mampu membunuh sel bakteri, contohnya: Penicillin, Streptomisin, Bacitrasin, Neomisin, Polimiksin dan Nitrofurans.
b.      Antibiotik yang bersifat bakteriostatik yaitu antibiotik yang hanya mampu menekan pertumbuhan sel bakteri, contohnya : sediaan Sulfa, Tetrasiklin, Khloramfenikol, Eritromisin, Tilosin, Oleandomisin dan Nitrofuran.
Secara umum antimikroba yang mempengaruhi pembentukan dinding sel atau permeabilitas membrane sel bekerja sebagai bakterisid, sedangkan yang mempengaruhi sintesis protein bekerja sebagai bakteriostatik. Bakterisid adalah zat yang dapat membunuh bakteri dan bakteriostatik adalah zat yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri, sehingga populasi bakteri tetap. Beberapa senyawa kimia antimikroba, antara lain fenol, alkohol, halogen, logam berat, zat warna, deterjen, senyawa ammonium kuartener, asam dan basa.
Berdasarkan atas sifat bakteri yang peka, antibiotik dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu
a.       Antibiotik yang peka terhadap bakteri Gram-positif, misalnya Penicillin, Basitrasin, Novobiosin, Sefalosporin, Eritromisin, Tilosin dan Oleandomisin
b.      Antibiotik yang peka terhadap bakteri Gram-negatif, misalnya Streptomisin dan Dehidrostreptomisin, Neomisin, Polimiksin, Colistin, Kanamisin dan Gentamisin
c.       Antibiotik spektrum luas, seperti Ampisillin, Amoksisillin, Tetrasiklin, Khloramfenikol, sediaan Sulfa, Nitrofurans dan Sefalosporin.
Tetrasiklin
 Tetrasiklin merupakan kelompok antibiotika yang dihasilkan oleh jamur Streptomyces aureofaciens atau S. rimosus. Tetrasiklin merupakan derivat dari senyawa hidronaftalen, dan berwarna kuning (Subronto, 2001). Tetrasiklin merupakan antibiotika berspektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram-positif maupun gram-negatif yang bekerja merintangi sintesa protein (Tan dan Rahardja, 2008).
Pemakaian Tetrasiklin pada Ternak
Pada unggas (ayam, kalkun), untuk pencegahan CRD tetrasiklin diberikan dengan dosis 100-200 mg/gallon air minum, sedangkan untuk pengobatan CRD dan air sacculitis, hexamitiasis dan bleucomb, sinusitis, dan sinivovitis, tetrasiklin diberikan dengan dosis 200-400 mg/gallon air minum (Subronto, 2001).
Di bidang peternakan, selain untuk tujuan terapetik, antibiotik juga dipakai sebagai imbuhan pakan untuk merangsang pertumbuhan pada ternak (Bahri, 2008). Beberapa antibiotika yang banyak dipakai sebagai perangsang pertumbuhan antara lain dari golongan tetrasiklin, penisilin, macrolida, dan lincomisin. Pengaruh pemberian antibiotik yang menguntungkan disebabkan oleh adanya faktor pengendali infeksi subklinis. Antibiotik juga mampu meningkatkan digesti pati dengan jalan menekan aktivitas mikroba yang bertanggung jawab terhadap produksi gas di lambung (Soeparno, 1998).
Namun akhir-akhir ini penggunaan senyawa antibiotik dalam pakan ternak telah menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuwan akibat efek buruk yang ditimbulkan melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur. Larangan penggunaan antibiotik dalam pakan ternak bukan merupakan hal yang baru bagi sebagian negara Eropa. Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun 1996 dan Swiss tahun 1999. Akan tetapi pelarangan tersebut tidak menyeluruh dan hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomisin (Jerman), spiramisin, tilosin, dan virginiamicin (Uni Eropa). Hingga kini hanya tersisa empat antibiotik yang masih diizinkan penggunaannya dalam pakan ternak pada masyarakat Eropa yaitu flavophospholipol, avilamycin, monensin-Na dan salinomycin-Na. Sementara di Indonesia larangan penggunaan beberapa antibiotik dalam imbuhan pakan tercantum dalam revisi UU no 6 tahun 1967 (masih dalam tahap penyelesaian). Hanya saja ada sedikit kerancuan karena tidak mencantumkan jenis antibiotik apa saja yang dilarang penggunaannya dalam pakan ternak (Sjofjan, 2011).
Residu Tetrasiklin pada Ternak
Residu obat atau bahan kimia adalah akumulasi obat atau bahan kimia dan atau metabolitnya dalam jaringan atau organ hewan setelah pemakaian obat atau bahan kimia untuk tujuan pencegahan/pengobatan atau sebagai imbuhan pakan untuk pemacu pertumbuhan. Residu antibiotik dalam makanan asal hewan erat kaitannya dengan penggunaan antibiotik untuk pencegahan dan pengobatan penyakit serta penggunaannya sebagai imbuhan pakan. Sebagai imbuhan pakan, antibiotika dapat memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan lebih cepat serta dapat mencegah terjadinya infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang berlebihan serta tidak dipatuhinya waktu henti obat menyebabkan timbulnya residu di dalam daging ternak, telur, susu atau produk ternak lainnya. Waktu henti adalah kurun waktu dari saat pemberian obat terakhir hingga ternak boleh dipotong atau produknya dapat dikonsumsi (Bahri, 2008). Waktu henti pemakaian antibiotik golongan tetrasiklin adalah 5 hari menjelang ternak dipotong (Lastari, dkk., 1987).
Dampak Negatif Penggunaan Antibiotik di Bidang Peternakan
Residu Antibiotik
Tiap senyawa anorganik atau organik, baik yang berupa obat-obatan, mineral atau hormon yang masuk atau dimasukkan ke dalam tubuh individu, akan mengalami berbagai proses yang terdiri dari : penyerapan (absorbsi), distribusi, metabolisme (biotransformasi) dan eliminasi.
Kecepatan proses biologik tersebut di atas tergantung kepada jenis dan bentuk senyawa, cara masuknya dan kondisi jaringan yang memprosesnya. Apabila bahan tersebut dimasukkan melalui mulut, penyerapan terjadi di dalam saluran pencernaan yang sebagian besar dilakukan oleh usus. Setelah terjadi penyerapan , senyawa yang berbentuk asli maupun metabolitnya akan dibawa oleh darah dan akan didistribusikan ke seluruh bagian tubuh. Metabolisme akan terjadi di dalam alat-alat tubuh yang memang berfungsi untuk hal tersebut dan pada sel-sel serta jaringan yang mampu melakukannya. Eliminasi akan dilakukan oleh alat-alat ekskresi, terutama ginjal, dalam bentuk kemih dan lewat usus dalam bentuk tinja.
Senyawa-senyawa dalam bentuk asli maupun metabolitnya akan tertinggal atau tertahan di dalam jaringan untuk waktu tertentu tergantung pada waktu paruh senyawa tersebut atau metabolitnya. Pada kondisi ternak yang sehat kecepatan eliminasi akan jauh lebih cepat daripada ternak sakit. Dalam keadaan tubuh lemah atau terdapat gangguan alat metabolisme, maka eliminasi obat akan terganggu. Apabila senyawa-senyawa tersebut diberikan dalam waktu yang lama, maka akan terjadi timbunan senyawa atau metabolitnya di dalam tubuh, itulah yang disebut dengan residu. Jadi residu obat adalah akumulasi dari obat atau metabolitnya dalam jaringan atau organ hewan/ternak setelah pemakaian obat hewan.
Pada usaha peternakan, residu dapat ditemukan pada bahan-bahan yang berasal dari ternak sebagai akibat penggunaan obat-obatan, termasuk antibiotik, pemberian feed additive, ataupun hormon yang digunakan untuk memacu pertumbuhan hewan. Semakin intensif suatu usaha peternakan maka kemungkinan untuk tertimbunnya residu semakin besar dan bahkan tidak terhindarkan lagi. Residu juga bisa berasal dari obat-obatan yang digunakan untuk mencegah kerusakan bahan pakan, yang mungkin bisa berupa pestisida, herbisida, fungisida dan antiparasitika
Terdapat lebih dari 40 jenis antibiotik (termasuk senyawa sulfa) telah digunakan dalam upaya peningkatan hasil usaha di bidang peternakan. Penggunaan antibiotik untuk tujuan pengobatan penyakit atau untuk memacu pertumbuhan pada ternak harus dilandasi dengan pengetahuan farmakokinetik dan farmakodinamik serta patofisiologi, jika tidak maka akan timbul kerugian yang besar, baik berupa bahaya terhadap ternak itu sendiri maupun terhadap manusia yang mengkonsumsinya.
Seringkali peternak tidak memperhatikan aturan pakai pemberian antibiotik, sehingga antibiotik yang diberikan sering di bawah dosis sehingga tidak manghasilkan kesembuhan pada ternak. Antibodi yang dibentuk di dalam tubuh tidak dapat pulih kembali, agen penyakit terus berkembang dalam kondisi yang lebih resisten. Selanjutnya penyakit akan kembali lagi dengan serangan yang lebih hebat dan tidak peka lagi terhadap jenis antibiotik yang sama dalam dosis yang sama. Keadaan tersebut memaksa petermak mempertinggi dosis pemakaian antibiotik. Akibat selanjutnya akan timbul shock pada ternak dan akan membunuh flora yang berada di usus ternak, sehingga sintesis vitamin oleh tubuh ternak terganggu serta terjadi super infeksi (infeksi baru).
Hal lain yang perlu untuk dipelajari adalah bahwa antibiotik tidak dapat seluruhnya diekskresi dari jaringan tubuh ternak, seperti : daging, air susu dan telur. Hal ini berarti sebagian antibiotik masih tertahan dalam jaringan tubuh sebagai bentuk residu.
Terdapat beberapa residu obat yang terdapat dalam produk ternak setelah pengolahan. Residu obat yang sering ditemukan antara lain adalah tetrasiklin, streptomisin, khloramfenikol dan benzyl-penicillin.
Tetrasiklin yang terdapat pada produk ternak sebanyak 5 ppm sampai dengan 10 ppm akan didegradasi dan hanya tersisa 1 ppm. Toksisitas produk degradasi tersebut belum diketahui. Streptomisin tidak terpengaruh oleh pemanasan pada temperatur 1000C selama 2 jam. Khloramfenikol stabil terhadap panas. Pemanasan pata temperatur 1000C selama 30 menit akan menurunkan kadar menjadi 80%. Khloramfenikol hanya boleh digunakan oleh ternak bukan produksi.
Pemanasan pada temperatur 600C sampai 850C akan menyebabkan benzyl-penicillin yang terdapat dalam daging terdegradasi dan dengan pemanasan yang lebih tinggi lagi meyebabkan terjadinya isomerisasi dari produk degradasi tersebut. Toksisitas produk degradasi tersebut belum diketahui.
Problem kesehatan manusia akan timbul jika manusia mengkonsumsi hasil ternak yang mengandung residu antibiotik. Beberapa efek yang mungkin timbul pada manusia akibat residu antibiotik, antara lain Penicillin seringkali menyebabkan alergi bagi manusia yang mengkonsumsinya dan menyebabkan gangguan kulit, kardiovaskuler, traktus gastrointestinalis, berupa diare dan sakit perut serta urtikaria dan hipotensi. Tetracyclin menyebabkan gangguan kulit, fotosensitifitas, muntah, diare, shock anafilaksis yang diikuti kematian. Streptomycin menimbulkan gangguan pada susunan syaraf pusat dan tepi, pusing-pusing, gangguan alat pendengaran, gangguan keseimbangan, vertigo dan ketulian. Chloramfenikol menimbulkan anemia dan leukopenia.
Selain pengaruh-pengaruh di atas, antibiotik juga berdampak negatif terhadap ternak, antara lain berupa hambatan pertumbuhan, penurunan daya tetas, toksisitas dan residunya dalam telur, daging maupun susu. Furaltadone bersifat menghambat pertumbuhan, Furazalidone menyebabkan penurunan daya tetas dan kelompok Sulfa sering menyebabkan toksisitas apabila kelebihan dosis. Chlorampenicol, Doxycyclin, Spyramycin, Tylosin, ditemukan :sebagai residu dalam telur dan daging. Tetracyclin,:Chloramphenicol dan Neomycin (TCN), mengganggu kehidupan mikroflora usus.
 Resistensi Bakteri
Resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain (1) adanya mikroorganisme yang menghasilkan enzim yang dapat merusak aktivitas obat (2) adanya perubahan permeabilitas dari mikroorganisme (3) adanya modifikasi reseptor site pada bakteri sehingga menyebabkan afinitas obat berkurang (4) adanya mutasi dan transfer genetik.
Transfer genetik antara strain Shigella telah ditemukan oleh Watanebe (1963), antara strain Gram negatif ditemukan oleh Falkow et al. (1966). Transfer resistensi bisa terjadi dari satu penderita ke penderita dan dari pangan asal ternak ke manusia.
Ransum ternak dan ikan pada awalnya tidak diberi tambahan antibakteri, tetapi dalam dekade terakhir antibakteri banyak digunakan dengan alasan untuk memperbaiki pertumbuhan dan produksi. Di Denmark, penggunaan antibakteri untuk kepentingan pakan tambahan jauh lebih besar daripada untuk tujuan pengobatan. Di Indonesia, penggunaan antibakteri sebagai pakan tambahan sudah digunakan dalam waktu yang cukup lama, namun sampai saat ini belum ada monitoring untuk mengetahui dampak negatif dari antibakteri tersebut. Di Negara-negara Eropa, monitoring tersebut sudah dilakukan secara rutin, dan karena terbukti memberikan dampak negatif, maka muncul larangan terhadap penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan. Larangan tersebut berawal dari diketahuinya bakteri yang resisten terhadap tetrasiklin, dimana tetrasiklin merupakan antibakteri yang paling banyak digunakan di Eropa.
Resistensi bakteri terhadap antibakteri sebagian besar terjadi karena perubahan genetik dan dilanjutkan serangkaian proses seleksi oleh antibakteri. Seleksi antibakteri adalah mekanisme selektif antibakteri untuk membunuh bakteri yang peka dan membiarkan bakteri yang resisten tetap tumbuh. Proses seleksi ini terjadi karena penggunaan antibakteri yang sama yang tidak terkendali. 
Resistensi bakteri terhadap antibiotik dapat ditekan melalui cara-cara, antara lain (1) mempertahankan kadar antibiotik yang cukup dalam jaringan untuk menghambat populasi bakteri asli dan yang mengalami mutasi tingkat rendah (2) memberi dua obat yang tidak memberi resisten silang secara simultan, masing-masing menunda timbulnya mutan resisten terhadap obat yang lain.
Pada awalnya masalah resistensi bakteri terhadap antibiotik bisa diatasi dengan penemuan golongan baru antibiotik dan modifikasi kimiawi antibiotik yang sudah ada, namun tidak ada jaminan bahwa pengembangan antibiotik baru dapat mencegah kemampuan bakteri pathogen untuk menjadi resisten. Bakteri memiliki seperangkat cara beradaptasi terhadap lingkungan yang mengandung antibiotik. Problem yang cukup penting adalah kemampuan bakteri untuk mendapatkan materi genetik eksogenous yang bisa menimbulkan terjadinya resistensi. Spesies pneumokokki dan meningokokki dapat mengambil materi DNA dari luar sel (eksogenous) dan mengkombinasikannya ke dalam kromosom.
Dampak Positif Penggunaan Antibiotik Sebagai Imbuhan Pakan Ternak
Pada usaha peternakan modern, imbuhan pakan (feed additive) sudah umum digunakan oleh peternak. Suplemen ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi pakan dengan mengurangi mikroorganisme pengganggu (patogen) atau meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan yang ada di dalam saluran pencernaan.
Penggunaan preparat antibiotik sebagai imbuhan pakan bertujuan untuk memperbaiki tampilan produksi ternak, seperti : peningkatan laju pertumbuhan, sehingga mendekati pertumbuhan yang ideal sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki ternak. Perbaikan konversi pakan dan perbaikan kondisi tubuh ternak, sehingga antibiotik sebagai imbuhan pakan disebut sebagai Antibiotic Growth Promotors (AGP).
Penggunaan AGP dalam pakan telah terbukti menguntungkan. Keuntungan yang bisa diperoleh antara lain (1) kondisi sel-sel epitel usus akan jauh lebih baik, termasuk perkembangan jaringan limfoid yang ada di usus. Keadaan ini akan menciptakan kesehatan ternak yang lebih optimal dengan respon pertahanan tubuh serta reaksi imunologis yang lebih baik. Dan selanjutnya akan menurunkan angha kematian ternak dan menekan biaya pengobatan (2) reruntuhan sel-sel yang dikeluarkan lewat feses pada ternak yang mengkonsumsi AGP lebih sedikit, dengan demikian jumlah feses secara total juga sedikit, sehingga hal ini akan mengurangi kontaminasi lingkungan dan menekan biaya penanganan limbah (3) kadar amoniak dalam feses pada ternak pengkonsumsi AGP jauh lebih rendah (4) tidak mengganggu fungsi biologis flora di dalam usus dan tidak bertujuan membunuh bakteri yang bersifat patogen, karena jumlah antibiotik yang digunakan sebagai AGP jauh di bawah dosis terapeutik (pengobatan) ataupun kadar hambat minimal (MIC: Minimal Inhibitory Concentration) dan tidak menyebabkan resistensi terhadap bakteri.
Batas Toleransi Antibiotik
Sebagai konsekuensi keadaan di atas, maka mengharuskan pemerintah menetapkan batas-batas keamanan residu dalam pakan dan produk-produk ternak yang diperdagangkan.
Produk daging, telur dan susu yang mengandung residu obat masih layak untuk dikonsumsi, jika kadar residu masih berada di bawah batas toleransi. Batas toleransi adalah kadar residu obat maksimal yang masih diperkenankan terdapat dalam daging ayam yang dikonsumsi. Obat yang sangat toksik yang mempunyai potensi karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), toleransi kadar residunya di dalam daging ayam harus nol.
Diperlukan perangkat-perangkat lunak dalam bentuk aturan-aturan untuk melindungi konsumen dari akibat negatif di atas. Aturan-aturan tersebut ditujukan terutama untuk produsen pakan ternak, pabrik obat-obatan hewan, semua orang termasuk Dokter Hewan dan peternak yang terlibat dengan penggunaan obat-obatan hewan.Batas-batas toleransi residu pada spesies ternak dan jaringan tubuh ternak ditentukan melalui uji coba atau penelitian dengan menggunakan hewan-hewan percobaan yang peka terhadap jenis obat yang digunakan dalam praktek. Keputusan batas-batas toleransi dan pemberian izin produksi obat-obatan setiap saat dapat berubah apabila hasil penelitian mengharuskannya. 
D.    Antioksidan
Antioksidan adalah zat yang ditambahkan dalam ransum mencegah terjadinya oksidasi lemak. Ada beberapa bentuk antioksidan, di antaranya vitamin, mineral, dan fitokimia, seperti ethoxyquin (6-ethoxy-1,2-dihydro-2,2,4-trimethyl-quinolin) atau BHT (Butylated hydroxytoluen), Diphenyl-p-phenylenediamin (DPPD), namun penggunaannya sekarang sudah dilarang karena berpengaruh buruk terhadap proses-proses reproduksi mamalia. Vitamin E dan antioksidan lain seperti BHT atau Endox dapat menahan peroksidasi dengan mengubahnya kembali menjadi asam lemak semula. Jika peroksida dibiarkan berlanjut akan terjadi pemecahan menjadi aldehid dan keton. Berbagai tipe antioksidan berkerja bersama dalam melindungi sel normal dan menetralisir radikal bebas.
Pada umumnya formula pakan terdiri 60 - 65 % bahan bijian seperti gandum, beras, sorghum, dan jagung dikombinasikan dengan beberapa bungkil kaya lemak. Bahan baku dengan kandungan lemak yang tinggi seringkali menyebabkan ketengikan pada bahan baku maupun pakan. Nilai peroksida di atas 10 dianggap tidak aman dan mengindikasikan terjadinya ketengikan pakan. Kondisi iklim yang panas dan lembab meningkatkan gejala ketengikan oksidatif yang terdiri atas 2 jenis yaitu :
1. Ketengikan hidrolitik
Ketengikan hidrolitik dihasilkan dari aktivitas mikro organisma terhadap lemak menyebabkan proses hidrolisis sederhana lemak menjadi asam lemak, di-gliserida, mono-gliserida dan gliserol. Ketengikan hidrolitik tidak mempengaruhi nilai nutrisi.
2. Peroksidasi lemak
Peroksidasi lemak menyebabkan pembentukan radikal bebas pada ikatan tak jenuh akibat pemisahan hidrogen dari asam lemak tak jenuh, yang menurunkan nilai energi lemak. Reaksi dipercepat dengan kehadiran mineral-mineral jarang yang terdapat dalam oksigen.
Ketengikan oksidatif dari lemak yang tidak jenuh dalam pakan dapat menyebabkan kerusakan vitamin E, A dan D. Hasil perombakan dari ketengikan dapat bereaksi dengan epsilon kelompok amino dari lisin karena dapat menurunkan nilai biologis dan energy pakan. Untuk mencegah terjadinya pengaruh ini dapat ditambahkan antioksidan ke dalam pakan.
Di banyak negara berkembang yang beriklim panas dan kelembaban tinggi, masalah ketengikan oksidatif meningkatkan morbiditas dan mortilitas, serta memperburuk konversi pakan yang mengurangi pendapatan peternak. Pemanenan dan penyimpanan bahan baku pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap stabilitas vitamin dan mineral. Penambahan antioksidan ke dalam pakan maupun bahan bakunya dapat secara efektif mengurangi kasus ketengikan oksidatif. Pada umumnya produsen bahan baku tidak menambahkan atas dasar pertimbangan biaya dan penyimpanan dalam waktu lama di bawah kondisi yang buruk seringkali menyebabkan ketengikan oksidatif pada kandungan lemaknya. Dalam kasus yang sama, banyak vitamin dan mineral premix impor disimpan dalam kurun waktu lama. Hanya vitamin yang stabil yang mampu bertahan terhadap kondisi yang buruk. Langkah-langkah untuk meminimalisir tejadinya ketengikan pada pakan :
1. Perbaiki kondisi penyimpanan misalnya ventilasi yang membantu menyediakan udara kering dan dingin,
2. Vitamin dan mineral premiks harus disimpan terpisah dan hanya dicampur sewaktu proses produksi pakan
3. Pakan tidak boleh disimpan lebih dari seminggu
4. Rotasi stok pakan sehingga pakan berumur tua selalu dikonsumsi terlebih dahulu
5. Gunakan antioksidan misalnya vitamin E, BHT dan Endox. Penambahan sodium bikarbonat dan kaolin cukup membantu. Tingkat penggunaan dari kebanyakan antioksidan berkisar 200 - 300 g/ton untuk bahan baku mengandung lebih dari 10 % lemak. Pakan yang ditambahkan antioksidan bisa tahan disimpan selama 3 - 6 minggu bahkan jika disimpan pada suhu tinggi.


Daftar Pustaka

Murwani, R., C. I. Sutrisno, Endang K., Tristiarti dan Fajar W. Kimia dan Toksiologi Pakan. 2002. Diktat Kuliah Kimia dan Toksiologi Pakan. Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang. (Tidak Dipublikasikan)
Wahyu, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-4. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Yuni Primandini. 2009. Additive Antibiotik Dan  Antioksidan. http://harninutrisi.blogspot.com/2009/04/additive-antibiotik-and-antioksidan.html

Osfar Sjofjan. 2004.  ASpek Keamanan Pakan Untuk Menghasilkan Kualitas Produk Peternakan Yang Aman. http://disnak.jatimprov.go.id/feednet/index.php?option=com_content&task=view&id=5&Itemid=22
Soeharsono. Penggunaan Hormon dalam Produksi Ternak. http://www.jatinangor-online.com/?p=282. 2001
 Bath, MK and GP Hazlewood.  2001.  Enzymology and Other Characteristics of Cellulases and Xylanases. In Enzimes in Farm Animal Nutrition. Bedford, MR and GG Patridge (Eds).  CABI Publishing. UK
 Direktorat Jenderal Peternakan. 2007.  Statistik Peternakan 2007.  Dirjen Peternakan Departemen Pertanian RI.
 Pugh, R and Chalfont D, 1993. The Scope for Enzymes in Commercial Feed Formulations. In Asia Pacific Lecture  Alltech.
 Richana, N. 2002.  Produksi dan Prospek Enzim Xilanase dalam Pengembangan Bioindustri di Indonesia. Buletin AgroBio 5(1):29-36, 2002
 Maenz, D.D. 2001.  Enzimatic Characteristics of Phytases as they Relate to Their Use in Animal Feeds. In Enzimes in Farm Animal Nutrition. Bedford, MR and GG Patridge (Eds).  CABI Publishing. UK






















Fisiologi Darah


PENDAHULUAN

Tiap hari kita menghirup udara dan memegang berbagai benda. Oleh karena itu, bagaimanapun juga kita akan selalu berinteraksi dengan bakteri. Seperti diketahui, begitu ada kesempatan maka bakteri akan menyelinap masuk ke dalam darah, kemudian berkembang biak dan mengeluarkan toksin (racun) yang dapat merusak kualitas darah.
kalau memang demikian, apakah itu berarti bahwa setiap hari ada kemungkinan bagi individu untuk menderita suatu penyakit, karena aktivitas keseharian yang dilakukan individu?Jangan cemas dulu. Ternyata, kenyataan tidak menunjukkan hal demikian. Bagaimanapun juga hanya sedikit sekali orang yang dalam setahun sakit secara terus-menerus. Mengapa bisa demikian? Karena dalam darah manusia terdapat suatu pasukan tempur yang berjumlah sangat besar yang tak henti-hentinya bertempur dan memberantas bakteri.
   Pasukan tempur itu tidak lain adalah sel darah putih yang juga dikenal dengan sebutan leukosit. Jumlah sel darah putih dan trombosit ternyata hanyalah 0,5% dari jumlah total darah dalam tubuh manusia. Dalam setiap milimeterkubik darah normal, terdapat 5 – 10 ribu sel darah putih. Berlainan dengan sel darah merah, sel darah putih tidak mempunyai bentuk yang tetap. Hal ini dikarenakan sel darah putih perlu selalu berubah bentuk untuk memudahkannya bertempur melawan bakteri.
Luka yang kita peroleh akibat kulit tergores benda tajam atau tenggorokan yang tergores duri ikan merupakan media yang paling tepat bagi masuk dan berkembangnya bakteri di dalam tubuh. Karenanya, bagian tubuh yang terluka merupakan tempat berkumpulnya sel darah putih. Sel darah putih akan mengepung dan memakan bakteri yang menempel pada luka tersebut hingga tuntas. Seringkali juga pada bagian tubuh yang luka tampak merah membengkak dan merasa panas sebagai akibat berkobarnya pertempuran sengit antara sel darah putih melawan bakteri. Bagian yang memerah dan membengkak itu adalah medan pertempuran, sedangkan nanah yang terdapat di sana tak lain adalah mayat sel darah putih dan bakteri yang gugur. Bila pertempuran itu dimenangkan oleh sel darah putih, maka bengkak merah tadi akan segera menghilang dan luka juga akan segera membaik. Akan tetapi, jika sel darah putih mendapatkan perlawanan yang sangat gigih dari bakteri sehingga tidak mampu mengalahkannya dengan cepat, maka bakteri itupun akan berkembang biak dan kita akan menjadi sakit. Pada saat seperti inilah kita membutuhkan bantuan dari luar, terutama obat-obatan agar segera dapat membasmi bakteri tersebut.
            Ada kalanya bakteri tidak masuk ke dalam pembuluh darah, namun hidup menumpang di selaput bagian dalam lambung, paru-paru, usus, ataupun organ tubuh lainnya. Dalam keadaan seperti itu, sel darah putih dapat berubah menjadi sangat lembut dan merembes ke luar dari pembuluh darah untuk mengepung bakteri dan membasminya hingga tuntas.
          
PEMBAHASAN

DARAH
Darah manusia dewasa berjumlah kira-kira 5,7 liter. Darah manusia dan darah hewan lain terdiri atas suatu komponen cair, yaitu plasma, dan berbagai bentuk unsur yang dibawa dalam plasma, antara lain sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keeping-keping darah. Plasma terdiri atas 90% air, 7 sampai 8% protein yang dapat larut, 1% elektrolit dan sisanya 1-2% berbagai (1) zat yaitu zat makanan seperti glukosa, asam amino lipid dan vitamin; (2) intermediat metabolik seperti seperti piruvat dan laktat; (3) limbah nitrogen seperti urea dan asam urat; (4) gas-gas yang larut, dan (5) hormon-hormon. Banyak dari molekul-molekul ini terdapat secara bebas dalam larutan, yang lain seperti beberapa mineral runut terikat pada protein transport (Ville, 2000).
Komposisi darah dapat mencerminkan tingkat kesehatan seseorang, oleh karena itu pemeriksaan darah penting. Darah merupakan suatu jaringan yang terdiri atas bermacam-macam sel dan cairan. Darah mempunyai banyak fungsi penting dalam kegiatam tubuh. Darah bekerja sama dalam memasok bahan-bahan yang diperlukan sel untuk memberbaharui komunitas sel-sel yang bekerja sama membangun tubuh Secara umum pembuluh darah tersusun atas tiga lapisan. Lapisan terluar tersususn. Darah merupakan jaringan yang tersusun atas sel darah merah, sel darah putih, keeping-keping darah dan plasma darah. Plasma adalah bagian cair darah dan tersusun sebagian besar oleh air (Muslimin dkk, 2004).
Sistem peredaran darah (sirkulasi) di perkenalkan oleh william harvey pada tahun 1628 yang menyatakan bahwa darah mengalir dalam suatu lingkaran ; darah meninggalkan jantung melalui pembuluh darah arteri dan dibawa kembali ke jantung oleh pembuluh darah vena. Diantara ujung-ujung terminal arterial dan terdapat suatu anyaman pembuluh-pembuluh darah yang sangat kecil, yang disebut pembuluh kapiler ; pada pembuluh kapiler ini terjadi antara darah dan cairan jaringan, sehingga pembuluh-pembuluh kapiler adalah bagian yang paling penting dalam sistem sirkulasi. Darah seorang pria dewasa rata-rata mempunyai enam liter darah, yang terdiri atas cairan (plasma) sebanyak 55% dan sel sebanyak 45%. Plasma mengandung 90% air dan 10% bahan lainnya (protein dan mineral dan sebagainya). Sel darah terdiri atas sel darah terdiri atas sel darah merah (erythrocytes), sel darah putih (leococyt) dan buter pembuluh (thrombocyte) (Luhulima,  2001).
Keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri, arteriola, kapiler, venula dan vena. Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi. Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah diantara denyut jantung. Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu. Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis, yang berfungsi sebagai jembatan diantara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena (membawa darah kembali ke jantung). Kapiler memungkinkan oksigen dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah. Dari kapiler, darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri, sehingga vena mengangkut darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu dibawah tekanan (Anonim, 2009a).
1 . Komponen Penyusun Darah
Pembentkan sel darah mulai terjadi pada sm-sum tulang setelah minggu ke 20 masa kehidupan embrionik. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang. Pada orang dewasa pembentukan sel darah diluar sum-sum tulang masih dapat terjadi. bila sum-sum tulang mengalami kerusakan atau mengalami fibrosis. Sampai dengan usia 5 tahun. Pada dasarnya semua tulang dapat menjadi tempat pembentukan sel darah. Dengan semakin bertambahnya usia janin, produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limpa semakin berkurang (Anonim, 2009a).
Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan lengket. Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsng dengan sel-sel dalam tubuh kita. Darah manusia tersusun atas da komponen, yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan darah). Sel-sel darah terdiri atas dua yaitu sel darah merah dan sel darah putih (Sonjaya, 2005).
Pada sum-sum tulang terdapat sel progenitor yang merupakan penghasil semua sel darah. Nampaknya sum-sum tulang mempunyai kelompok sel yang menghasilkan sel darah tertentu, kecuali netrofil dan monosit yang nampaknya berasal dari kelompok sel yang sama. . Terbentuk 8 macam sel yang berbeda dan semua dihasilkan dari satu jenis sel batang pluripoten yang akan menurunkan 5 garis keturunan sel yang berbeda. Garis mieloblas menghasilkan tiga jenis sel granulosit sedangkan garis monoblas dan limfoblas menghasilkan sel agranulosit. Eritrosit atau sel darah merah dan trombosit dibentuk dari garis keturunannya masing-masing (Watson, R 2002).
Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organic dengan satu atom besi. Selain itu juga dapat dikatakan bahwa hemoglobin dalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transfor oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Hemglobin diukur dalam satan gram per 100 ml. Nilai normal adalah 14-16 g per 100 ml. Hemoglobin mempunyai daya tarik yang kuat terhadap oksigen. Ketika sel darah melewati paru-paru, hemoglobin akan bergabng dengan oksigen dari udara dan warnanya menjadi cerah (Watson, 2002).
Sel darah merah mengalami sejumlah stadium dalam perkembangannya di dalam um-sum tulang. Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Jumlah sel darah merah bervariasi tergantung jenis kelamin, usia, dan juga ketinggian tempat orang tersebut hidup. Jumlah sel darah merah bisa berkurang misalnya karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena anemia (Sarikini, 2000).
Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis (Watson, R 2002).
Trombosit mempunyai karakteristik seperti sel pada umumnya walaupun tidak mempunyai inti dan tidak dapat melakukan reproduksi. Dalam sitoplasma trombosit berperan aktif. Membran sel trambosit diliputi oleh glikoprotein yang mencegah perlekatan dengan endothel normal, tetapi mrmudahkan perlekatan dengan endothel yang rusak. Bentuk keeping darah tidak teratur dan tidak mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah, serta berperan penting pada proses pembekuan darah Membran sel juga mengandung platelet factor 3 untuk proses pembekuan darah (Anonim, 2009b).
Trombosit atau Keping-keping darah berkerut pada pembuluh darah luka dimana trombosit melepaskan satu bahan yang membatasi kehilangan darah sebelum koagulasi (pembekuan darah) terjadi. Pada kuda jumlahnya berkisar antara 110.000 – 300.000 per mm3 dengan rataan 170.000 (Sonjaya, 2005).
Plasma darah berguna dalam pengaturan tekanan osmosis darah sehingga dengan sendirinya jumlahnya dalam tubuh akan diatur, misalnya dengan proses ekrenasi. Plasma darah juga bertugas membawa sari-sari makanan, sisa sisa metabolisme, hasil sekresi dan beberapa gas. Serum yang bersal dari hewan tersebut , dapat disuntikkan kepada hewan yang peka terhadap penyakit yang sama untuk memberikan perlindungan paif, selama antibody itu masih berada di tubuh hewan yang peka itu (Sarkini, 2000).
2. Fungsi darah
Darah adalah cairan berwarna merah pekat. Warnanya merah cerah di dalam arteri dan berwarna merah unggu gelap di dalam vena, setelah melapas sebagian oksigen ke jaringan dan menerima produk sisa dari jaringan. Bahan-bahan tersebut diangkut ke seluruh sel dan jaringan, dimana bahan-bahan tersebut akan berdifusi dari kapiler ke jaringan intersritial, masuk ke dalam sel dan selanjutnya akan dipergunakan untuk semua aktifitas sel. Darah membantu mengangkut zat-zat makanan yang diperlukan oleh jaringan tubuh (Anonim, 2009c).
Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transfortasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian. Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi sebagai alat transfortasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tbuh, pertahanan tubuh dari serangan kuman, dan lain sebagainya. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punya sistem transfortasi dengan darah (Syaifuddin, 2002).
Fungsi darah pada tubuh manusia ataupun ternak adalah sebagai alat pengangkut air dan menyebarkannya ke seluruh tubuh, sebagai alat pengangkut oksigen dan akan menyebarkannya ke seluruh tubuh, mengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat ekskresi, mengangkut getah hormone dari kelenjar bungtu atau endokrin, menjaga suhu temperature tubuh, mencegah infeksi dengan sel darah putih, antibody, dan sel darah beku, serta mengatur keseimbangan asaam basa dalam tubuh. darah berfungsi untuk mentransfor asam amino, asam lemak, mineral, dan bahan-bahan nutrisi lainnya darah juga mentransfor hormone dan vitamin kesel untuk mengatur proses metabolisme dalam sel. Melalui pertukaran ion-ion dan molekul pada cairan interstitial, darah membantu mempertahankan pH dan konsentrasi elktrolit pada cairan interstitial dalam batas-batas yang dibutuhkan untuk fungsi sel yang normal (Surkini, 2000).
3. Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping-Keping Darah
Sel darah merah tidak memiliki nucleus, tetapi berisi suatu protein khusus yang disebt hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen berwarna kuning, tetapi efek keseluruhan hemoglobin adalah membuat darah berwarna merah. Hemoglobin mengandung sejumlah kecil besi dan besi ini esensial bagi kesehatan, meskipun jumlah totalnya di dalam darah dikatakan hanya cukup untuk membat paku sepanjang 2 inci. Dalam kondisi sehat, hamper semua sel darahmerah di dalam darah seharusnya berbentuk eritrosit, dengan hanya sedikit retikulosit. Banyak factor yang menentukan pembentukan normal sel darah merah (Watson, R 2002).
Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Pada stadium ini sel tersebut disebut retikulosit, akhirnya, benag-benang menghilang dan menjadi eritrosit matang yang segera dilepas ke aliran darah (Anonim, 2009a).
Salah satu darah yang mempunyai peranan penting dalam sistem peredaran darah dan dalam menjalankan fungsinya yaitu sel darah putih. Berikut akan dijelaskan tentang sel darah putih
Sel Darah Putih
Sel darah putih, leukosit (bahasa Inggris: white blood cell, WBC, leukocyte) adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler / diapedesis. Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes.Dalam setiap milimeter kubil darah terdapat 6000 sampai 10000(rata-rata 8000) sel darah putih .Dalam kasus leukemia, jumlahnya dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes (Anonim, 2010a).
Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis (Watson, R 2002).
 Sel darah putih atau dalam bahasa Inggris disebut dengan  white blood cell (WBC) merupakan komponen darah yang berperanan dalam memerangi infeksi. Sel darah yang juga dikenal dengan leukosit ini terbagi dalam beberapa tipe dan dua tipe yang paling umum adalah limposit dan neutropil (Anonim, 2011).
Limposit diproduksi oleh jaringan lympoid yang terdapat di dalam organ limfa, kelenjar limfe dan kelenjar thymus. Limposit bertugas untuk memerangi zat zat yang dihasilkan oleh kuman penyakit dengan membentuk zat kekebalan tubuh atau antibodi. Antibodi yang dibentuk sangat spesifik sesuai dengan jenis kuman yang menginfeksi. Pembentukan antibodi memerlukan waktu beberapa hari sampai beberapa minggu sesuai dengan jenis kuman yang menginfeksi (Rilantono, 2001).
Seperti halnya limposit, neutropil juga berperanan sangat penting dalam upaya tubuh memerang infeksi. Neutropil dibentuk di dalam sumsum tulang dan beredar ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selanjutnya neutropil akan keluar dari peredaran darah menuju jaringan yang terinfeksi. Nanah yang biasanya terdapat dalam luka mengandung banyak sekali neutropil. Dalam kondisi normal, infeksi bakteri yang serius akan merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak lagi neutropil sehingga nilai WBC akan meningkat (Rilantono, 2001)
Kadar WBC dihitung berdasarkan jumlah sel darah putih yang ada pada sampel darah penderita. Nilai normal dari WBC adalah antara 4 ribu sampai 11 ribu per mikroliter. Kadar WBC yang rendah dikenal dengan istilah leukopenia sementara kadar yang tinggi disebut leukositosis (Anonim, 2010b).
Menurut Evelyn, 2006 di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang
Jenis-Jenis Del Darah Putih
Menurut Anonim, 2011 ada beberapa  jenis dari sel darah putih diataranya yaitu :
1.  Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan. sel ini terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang, misalnya asma atau alergi kulit. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit.
2.  Eosinofil.Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit. Eosinofil biasanya 1-3% leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi dan tanggapan terhadap parasit. Kadang kala penyakit HIV dapat menyebabkan jumlah eosinofil yang tinggi. Jumlah yang tinggi, terutama jika kita diare, kentut, atau perut kembung, mungkin menandai keberadaan parasit.
3.  Sel batang atau Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah. Neutrofil berfungsi melawan infeksi bakteri. Biasa jumlahnya 55-70% jumlah leukosit. Jika neutrofil kita rendah (disebut neutropenia), kita lebih mudah terkena infeksi bakteri. Penyakit HIV lanjut dapat menyebabkan neutropenia. Begitu juga, beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha (misalnya gansiklovir untuk mengatasi virus sitomegalo.
4.  Sel segmen Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam jaringan. makrofag mencakup 2-8% leukosit. Sel ini melawan infeksi dengan ‘memakan’ kuman dan memberi tahu sistem kekebalan tubuh mengenai kuman apa yang ditemukan. Monosit beredar dalam darah. Monosit yang berada di berbagai jaringan tubuh disebut makrofag. Jumlah monosit yang tinggi umumnya menunjukkan adanya infeksi bakteri.
5.  Limfosit. Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Ada dua jenis utama limfosit: sel-T yang menyerang dan membunuh kuman, serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh; dan sel-B yang membuat antibodi, protein khusus yang menyerang kuman. Jumlah limfosit umumnya 20-40% leukosit. Salah satu jenis sel-T adalah sel CD4, yang tertular dan dibunuh oleh HIV. Hitung darah lengkap tidak termasuk tes CD4. Tes CD4 ini harus diminta sebagai tambahan. Hasil hitung darah lengkap tetap dibutuhkan untuk menghitung jumlah CD4, sehingga dua tes ini umumnya dilakukan sekaligus Darah mempunyai tiga jenis limfosit:
a.  Sel B: Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem ‘memori’.)
b. Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) sarta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus.
c.  Sel natural killer: Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker
                                                
6. Monosit. Monosit membagi fungsi “pembersih vakum” (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan: memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.
                                               
Fungsi sel Darah putih
Granulosit dan Monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan terhadap mikroorganisme. dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago- memakan), mereka memakan bakteria hidup yang masuk ke sistem peredaran darah. melalui mikroskop adakalanya dapat dijumpai sebanyak 10-20 mikroorganisme tertelan oleh sebutir granulosit. pada waktu menjalankan fungsi ini mereka disebut fagosit. dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas didalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh. dengan cara ini ia dapat mengepung daerah yang terkena infeksi atau cidera, menangkap organisme hidup dan menghancurkannya,menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihan-serpihan dan lainnya, dengan cara yang sama, dan sebagai granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak jaringan hidup, menghancurkan dan membuangnya. dengan cara ini jaringan yang sakit atau terluka dapat dibuang dan penyembuhannya dimungkinkan (Anonim, 2010c).
Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan sama sekali. Bila kegiatannya tidak berhasil dengan sempurna, maka dapat terbentuk nanah. Nanah beisi "jenazah" dari kawan dan lawan - fagosit yang terbunuh dalam kinerjanya disebut sel nanah. demikian juga terdapat banyak kuman yang mati dalam nanah itu dan ditambah lagi dengan sejumlah besar jaringan yang sudah mencair. dan sel nanah tersebut akan disingkirkan oleh granulosit yang sehat yang bekerja sebagai fagosit (Watson, 2002).

DAFTAR PUSTAKA



                _______,2010c). http://www.wikipedia.com.
Anonim, 2009a (http://www.id.wikipedia.org/wiki/darah/diakses 2009/10/31)

 _______,2009c, Bahan Ajar Fisiologi Keperawatan,. Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar

Luhulima,W,J. 2001. Anatomi Akademi Perawat. Bagian Anatomi. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar

Muslimin, dkk. 2004.Sains. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Jakarta
               Pearce. Evelyn. C. 2006. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Penerbit : PT Gramedia. Jakarta.

Rilantono, Ismudiati, Lily. Baraas, Faisal. Karo,Karo, Santoso. Reobiono, Surwianti, Poppy. 2001. Buku Ajar Kardiologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia. Penerbit Balai. Jakarta.

Sonjaya, H. 2010. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Fakuiltas Peternakan-Universitas Hasanuddin. Makassar.

Syaifuddin.2009.Ed. 2.Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika.

Sarikini, 2000. Fisiologi Hewan. Penerbit ITB. Bandung
Ville, Walker dan Barnes. 2000.Zoologi. Jakarta: Erlangga
Watson, R. 2002. Anatomi dan fisiologi untuk perawat_edisi ke dua. ECG. Jakarta.